Senin, 14 Juli 2008
jadwal kesibukan saat mas cuti
Setelah ga kuat berjalan baru ngeluh2 tia minta dipijitin....hihihihi...
senang rasanya kecxapekan belanja. Makasih ya mas...
Kamis, 10 Juli 2008
Sekarang kok masih kamis?
Tambah gemuk ga ya? padahal mau nyobain baju merah dari kain sari itu. Jadi inet belum di laundry lagi...hhhoho
Klo bajunya ga cukup lagi, bakalan boros nih, mas beli kemeja dan aq beli kebaya baru, huhuhu pasri ratusan ribu melayang, hanya karena mas gagal diet....
~eh, apa ya oleh2 untuk kedatangan kali ini?
Jumat, 04 Juli 2008
logo T and D
Jadi ceritanya mas dan aq menjadi penghubung dan pengikat tali cinta laki2 bernama D dan perempuan yang bernama T. Entah bakalan bisa tersambung ato tidak tergantung dari strategi dan kehati2an mas, aq dan terutama mereka berdua. Semoga diberi yang terbaik sajalah.
~ ps: mas klo ga mau berdiri di kereta ga usah sok baik truz berdiri.ye?
Rabu, 02 Juli 2008
pernikahan kita? ups...buru2 banget ya?
Senang rasanya mas Arif menikah, mas bagus menikah,dan kapan ya aq jadi tante tiara?hihihi ga sabar ada yang manggil tante.

ps: sayang mas, lucu liat mas dan teman2 kerja.
Selasa, 01 Juli 2008
Suamiqu betapa aq mencintaimu
"... Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan..."(Q.S. Al Insyirah : 5-6)
Hmm...hm.. Darimana aku harus memulai menulisnya ya, kenangan yang indah, kenangan yang luar biasa, dan subhanallah.. Maha Besar Allah dengan segala takdirNya..
Dua puluh tiga bulan yang lalu, ketika ucapak akad nikah itu terlantun dari bibirnya.. ketika itu pula saya merasa bahwa status saya telah berubah, yaitu menjadi seorang istri dari suami yang sholeh..
Hari-hari kami penuhi dengan ucapan syukur pada Illahi Rabbi... Ya Allah terima kasih, engkau telah mengirimkan padaku seorang suami yang sabar, rendah hati, dan sangat menyayangiku..
Subhanallah, Allahu Akbar. Hari-hari kami lalui dengan penuh kebahagiaan dan penuh senyuman juga harapan. Kami susun lembaran rencana hidup kami yang akan kami lakukan..
Hm..hm..2 bulan setelah menikah, tepatnya Bulan Syawal tahun 2006, pagi itu terasa pusing sekali diriku, terasa berkunang-kunang. Ternyata, alhamdulillah Allah menitipkan janin kecil pada kami. Subhanallah, ada janin kecil dalam rahimku..
Allahu akbar, hari-hari kami lalui dengan semangat yang membara, karena sebentar lagi akan lahir putra kami..hm..hm..rasanya tak sabar menunggunya.. Kami berdua tetap beraktivitas seperti biasa, kuliah S2 kami tetap kami lalui. Karena kami memang punya kewajiban untuk menyelesaikan S2 kami masing-masing...
Tak terasa, kehamilan 6 bulan tiba..hm.. Badanku sudah mulai gemuk, tetapi belum begitu gemuk kata teman2ku..
Tiba saatnya suami tercinta bertolah ke Netherland, untuk melanjutkan S2nya. Rasanya begitu berat, ditengah kehamilan yang menginjak usia 6 bulan, 3 bulan lagi saatnya untuk melahirkan.. tetapi bagaimanapun juga dalam pikiranku, aku hanya ingin melihat suami tercinta berhasil dalam hidup dan kuliahnya. Dengan penuh suka cita dan linangan air mata aku melepas kepergiannya di Bandara Adisucipto.. Ujian pernikahan kami tidak sampai disini, suamiku ternyata mendapatkan sedikit ujian tentang penerbangannya. Dia harus "delay" satu hari di Malaysia. Dengan anakku yang masih ada diperutku, aku mencoba mengurus tiket penerbangan suamiku.. Hm..ditengah kelelahan yang menderam ternyata ada kepuasan batin ketika dengan keikhlasan membantu sang suami tercinta. Semoga Allah meridhoi langkah ini, menjadikan pahala atasku untuk berkhidmat kepada suami tercinta..
Hari-hari di Netherland, terasa begitu lama. Komunikasi lewat handphone dan yahoo messenger merupakan cara kami untuk tetap berkomunikasi, walau memang pulsa membengkak, tetapi tidak jadi masalh bagi kami. Beliau selalu bilang "De, insya Allah ada gantinya sayangku..".
Linangan airmata kerinduan untuk bertemu dengan suami terus mendera, akan tetapi semangat untuk mendukungnya, untuk memberikan motivasi padanya mengalahkan segala kelelahan.
Bulan Juni tiba, ujian S2 ku segera digelar sambil menunggu kehadiran suami tercinta dari negeri orang. Hari-hari terus menunggu kepulangannya, hingga tanggal 26 Juni tiba. Saat itu aku selesai ujian semenster 2 S2 ku, pulang jam 5 sore. Bahagia sekali, insya Allah nanti malam berjumpa suami tercinta. Alhamdulillah, "sayangku, insya Allah nanti malam ketemu Ayah.." jam 20.30 aku bertolak ke Bandara untuk menjemput suami tercinta. Alhamdulillah, airmata ini menetes ketika melihat beliau memelukku, mencium keningku tanda kerinduan yang terpendam. Subhanallah, rasanya bahagia sekali ketika berjumpa dengannya setelah terpisah 3 bulan lamanya.
Hm..hm..rasa lelah mendera kami berdua, malam itu seolah cerita tiada habisnya. Alhamdulillah, mas bisa menunggu putra kita lahir di dunia, insya Allah. bahagianya rasanya kembali bisa berkumpul dengan suami..
Keesokan paginya, suami mohon ijin untuk istirahat ditengah kelehannya dari Belanda. Tetapi, jam 08.30 pagi...aku bilang "mas, kayaknya kita harus ke rumah sakit.." Tiba2 air ketubanku pecah, dan panik...tetapi dengan ketenangan suamiku, akhirnya kami ke Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk bersalin..
Puji syukur kehadirat Allah, alhamdulillah sudah bukaan 1. Tetapi ketuban itu terus dan terus keluar, hingga pukul 11.30 alhamdulillah sudah bukaan 8, kemudian jam 12.30 alhamdulillah bukaan 10. Persalinan dijelang, aku masuh ruang persalinan ditungguin oleh suami tercinta. beliau tak hentinya melafadzkan dzikir sambil memegang erat tanganku yang sedang berusaha untuk melahirkan. Sampai jam 15.30 anakku juga belum lahir.. Kami masih berusaha sekuat tenaga untuk proses persalinan normal. Suamiku tak henti2nya meneteskan airmata ketika melihatku melalui proses persalinan. Dokterpun masuk mengontrol kami, kemudian hati kami berdua dikejutkan dengan kata2 "Denyut jantungnya melemah,.." tetapi kekuasaan Allah, 5 menit kemudian diperiksa alhamdulillah normal. Kemudian pukul 16.00 diputuskan untuk operasi caesar. Dan kamipun menyanggupinya.
Alhamdulillah jam 16.45 putra kami lahir, laki-laki dan kami beri nama Asfarizal Abdurrahim Fadiyya Alfauzan. Alhamdulillah, hidunya mancung seperti ayahnya, hampir semuanya mirip ayahnya. Suamiku menangis tak henti-henti....bersyukur kepada Allah, setiap hari beliau melantunkan hafalan surat2 dalam AlQuran, juz 29 yang sering ia bacakan untukku dan putraku dengan hafalan beliau.
Kebahagiaan menyelimuti kami berdua, dan putra kami ajak untuk kuliah S2..
Alhamdulillah suami hampir selesai S2, dan Allah memberikan kemudahan baginya untuk S3. Akan tetapi sebelum bulan November beliau harus selesai S2nya. Ditengah kesibukan kami sebagai orang tua baru, kami harus bekerja sama untuk menyelesaikan S2 suamiku. Alhamdulillah sesuai dengan rencana.
Tiap malam aku menemaninya dan membantunya untuk menyelesaikan S2nya, dan kemudian ditambah lagi dia harus membawa jurnal yang akan dipresentasikan ke Thailand. Alhamdulillah jurnal diterima oleh pihak penyelenggara, dan beliau dijanjikan untuk S3 ke Jepang, Nagoya University apabila beliau bisa menyampaikan paper di seminar dengan baik.
Hari keberangkatan tiba, tanggal 2 November 2007. dengan sukacita beliau bertolak ke Thailand, dengan 'sangu" akan menjadi pembicara disana. sms demi sms kuterima dengan penuh kebahagiaan dan sukacita. Alhamdulillah, sang promotor menyetujui beliau untuk melanjutkan S3 ke Jepang. beliau sms, "Alhamdulillah istriku tercinta, mas bisa berangkat ke Jepang karena Pak Profesor menerima pemaparan mas dengan baik, insya Allah". Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi kami berdua.
Berita gembira itu masih kusimpan dalam handphoneku, dan juga semangat yang dia berikan padaku: "Bunda, alhamdulillah kita punya kehidupan sendiri yang kita bisa bersama berjuang dan meraih impian. Semangat ya bunda, doa ayah selalu terucap untukmu". Subhanallah, beliau sangat menyayangiku, selalu mengobarkan semangat untukku.
Tanggal 4 November, sms demi sms masih kuterima hingga jam 12.45. Kubalas sms itu dan masuk hingga jam 14.00. kebahagiaan menyelimuti hidup kami, dan tak kami duga dan tak kami sangka, ternyata Allah punya rencana besar buat kami.
Jam 15.00 waktu Thailand, suamiku mengalami kecelakaan speedboad, dan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, dia berpulang kepada Allah Sang Maha Pencipta. Kabar itu kuterima jam 21.30 malam, ketika berita itu disampaikan padaku, aku hanya bisa mengambil air wudhu kemudian menangis dihadapan Allah, sholat sunnah 2 rokaat untuk menguatkan hatiku, hingga yang keluar hanyalah "Innalillahi wa inna illaihi roji'un. Allahuma Ajirnii fii mushibati wakhlufli khoiru minha..." Ya Allah berilah aku pahala atas ujian ini, ringankanlah ujian ini, dan gantilah dengan yang lebih baik..."
Linangan airmata tak henti dari mataku, bibirku kelu untuk berucap apapun, aku tak kuasa menahan tangis ketika orang2 mulai berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa padaku. Hanya lantunan "Laa haula wa laa quwwata illa billah" yang mampu aku ucapkan untuk menguatkanku.
Hari senin, aku masih menantikan kepulangan jenazan suami tercinta. Kupenuhi dengan sholat, entah sholat sunah apapun aku usahakan lakukan agar aku tetap khusnudzon sama Allah, begitu berat rasanya hati ini untuk menerima takdir Allah. Putraku masih 4 bulan. Senin, pembicaraan panjang tentang pemulangan suamiku, dan aku menhandle sendiri. Semuanya bermusayawarah denganku tentang kepulangan jenazah suamiku.
Hari selasa tiba, jadwal kepulangan suamiku memang sesuai dengan jadwal kepulangan yang direncanakan. Hanya yang berbeda adalah wujudnya. Dia berpulang dalam keadaan membujur kaku tak berucap sedikitpun. Aku ingin menjemputnya dalam pelukanku, akan tetapi dia sudah dibungkus peti jenazah dengan rapi dan di atasnya adalah surat2 kematian untukku, bukan pesan indah darinya tetapi pesan dari KBRI di Thailand.
Selasa, 6 November 2007, kami keluarga besar beserta tim dari UGM menjempunya di bandara AdiSucipto. Aku tak mampu untuk meguasai diriku, airmata keluar tak terasa sebagai wujud cintaku padanya. Laa haula walla quwwata tak henti dari bibirku, sambil menggendong putraku aku menyapa suamiku.. "Assalamu'alaikum sayangku, cintaku...Selamat datang suamiku tercinta.." Aku hanya mencium peti jenazahnya, bukan dirinya. Allahu Akbar..
Sampai di rumah duka, peti jenazah dibuka, subhanallah, allahu akbar, suamiku tersenyum di peti jenazah itu. Berulang kali aku mengusap wajahnya, dan airmataku kutahan dengan sekuat tenagaku. Aku menemaninya di dekat peti jenazah suamiku..
Pemakamanpun tiba, aku menemaninya hingga beliau dimasukkan ke dalam liang lahat. Dan itu untuk terakhir kalinya aku memandang suamiku tercinta, tetesan airmata membaasahi pipiku.. Aku tak mampu untuk berucap apapun kecuali lantunan doa untuknya untuk suami tercinta...
Aku pulang dari makam dengan langakh gontai, tetapi aku ingat anakku...
Selamat Jalan suamiku tercinta, semoga Allah mengampunimu.. engkau pergi ke Thailand dalam rangka menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu, dan juga memperjuangkan keluargamu dan masa depanmu, Banyak yang mengatakan engkau syahid suamiku, karena engkau meninggal tenggelam.
Suamiku tercinta, selamat Jalan...Semoga Allah mengampuni dosa2mu, melapangkan kuburmu,menerangi kuburmu, dan menjadikan kuburmu sebagai bagian dari taman surgaNya..
Aku sangat mencintaimu suamiku..diambil dari dudung.net namun cerita ini adalah hasil karya Iswari Nur Hidayati.
~menghindari plagiarisme.
salah kirim foto?
Maafkan aq ya Mas. Tia akan lebih hati2.
Minggu, 29 Juni 2008
14 TIP PERKAWINAN HARMONIS
14 TIP PERKAWINAN HARMONIS
1. Komunikasi Berkualitas
Komunikasi yang berkualitas tak dihitung dari seberapa sering kita berbicara dengan pasangan tetapi seberapa kuat komunikasi itu dapat memecahkan masalah yang terjadi. Contoh, ada persoalan dengan perilaku anak yang sering tantrum. Nah, suami dan istri perlu berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencari solusinya. Intinya suami istri merasa bertanggung jawab terhadap persoalan yang terjadi.
2. Pacaran Setelah Menikah
Akan sangat menyenangkan bila kita berkunjung ke tempat-tempat yang pernah kita datangi saat berpacaran, baik itu restoran, bioskop, tempat wisata, dan sebagainya. Kunjungilah berdua saja sambil sejenak melupakan masalah di rumah.
3. Hubungan Jasmani dan Bulan Madu Kedua
Hubungan jasmani merupakan ekspresi cinta yang sangat dalam. Lakukanlah kesepakatan bagaimana melakukan hubungan yang terbaik lewat pembicaraan tentang hasrat dan fantasi seksual yang kita inginkan. Tapi ingat, kepuasan seks tak tergantung seberapa sering kita melakukannya tetapi bagaimana kita berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan. Intinya, kedua pasangan menikmati betul hubungan ini dengan baik, bukan semata-mata memenuhi kewajiban.
Sangat baik bila di waktu tertentu kita merancang hubungan jasmani ini dengan lebih spesial. Misal, melakukannya tidak di rumah melainkan di lokasi-lokasi spesial seperti hotel atau di tempat indah lain. Ambillah cuti 2-3 hari kemudian jadikan momen ini sebagai bulan madu kedua. Dengan suasana yang sangat spesial ini bisa menggelorakan kembali cinta pertama seperti saat belum ada anak-anak.
4. Saling Memaafkan
Cobaan terkadang membuat pasangan khilaf dan melakukan kesalahan. Diperlukan keluasan hati untuk bisa memaafkan kesalahan yang dilakukannya. Mungkin saja, karena tak kuat cobaan, dia berselingkuh. Bila kemudian dia mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, tak salah bila kita memberinya maaf.
Begitu pun dengan kesalahan-kesalahan kecil yang dia perbuat, harus dibukakan pintu maaf. Umpama, pasangan tak menepati janji untuk makan malam di rumah; jangan langsung kesal dan memarahinya tetapi lihat dahulu alasan kenapa dia mengingkarinya. Bila memang alasannya bisa diterima, segera berikan maaf. Penelitian menunjukkan, kemarahan dan kebencian merupakan pemicu hancurnya sebuah perkawinan. Dengan maaf, kebencian akan sirna dan membuat pasangan tidak saling menyakiti.
5. Saling Percaya dan Terbuka
Istri memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap aktivitas yang dilakukan suami bahwa dia tidak melakukan hal-hal negatif di kantor, misal. Begitu pun sebaliknya. Tentu harus dibarengi dengan kesungguhan masing-masing untuk tidak merusak keharmonisan lewat tindakan-tindakan negatif, seperti berselingkuh. Seandainya ada ganjalan atau pasangan punya pandangan berbeda, sebaiknya bicarakan secara terbuka. Istri maupun suami tak boleh egois untuk memaksakan kehendaknya, melainkan negosiasikan dan cari titik temunya agar aktivitas yang dilakukan berjalan nyaman dan tidak saling menyakiti.
Keterbukaan masing-masing terhadap aktivitasnya pun sangat penting terhadap tumbuhnya kepercayaan. Jangan menggunakan "topeng" untuk menutupi sesuatu, tetapi kembangkan kejujuran supaya setiap pasangan dapat mengenal watak, sifat, dan karakter masing-masing dengan baik.
6. Saling Menghargai
Bila kebetulan jabatan istri lebih tinggi dari suami tak harus membuatnya lebih tinggi hati sehingga menyepelekan suami. Begitu pula sebaliknya. Ketika keduanya beradu pendapat tentang suatu hal, maka masing-masing harus menghargai pendapat pasangannya. Penghargaan yang terkadang membuat pasangan begitu bahagia adalah kejutan-kejutan yang kita berikan. Saat ulang tahun misalnya, berikan hadiah-hadiah unik yang sangat disenangi pasangan. Tentu dia akan merasa sangat dihargai.
7. Memandang Positif Persoalan
Sangat wajar bila dalam rumah tangga muncul persoalan yang begitu pelik dan sulit dipecahkan bersama. Umpama, siapa yang harus mengurus anak di rumah dan siapa yang bekerja. Memang, umumnya suamilah yang bekerja dan istri menjaga anak. Namun bila gaji suami tak mencukupi atau istri punya karir yang bagus, tentu hal ini perlu dipecahkan. Untuk itu,setiap pasangan harus memandang positif persoalannya dengan mencari apa yang sebenarnya menjadi perhatian masing-masing.
Alasan istri bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidup memang sesuatu yang perlu dilakukan. Demikian pula dengan karier. Nah, pengurusan anak bisa dicarikan solusi bersama, apakah mencarikan pengasuh, mengatur jadwal bersama anak, memanfaatkan waktu libur lebih berkualitas, dan sebagainya. Terkadang, pendapat masing-masing sangat bertolak belakang, untuk itu atur waktu dan carilah tempat yang nyaman guna membicarakan masalah ini. Kesabaran dan kebijaksanaan sangat diperlukan supaya pernikahan tetap harmonis.
8. Menepati Komitmen Pernikahan
Saat menikah, tentu kita punya komitmen dengan pasangan. Misal, menerima pasangan apa adanya, suami bekerja sedangkan istri mengurus anak atau sebaliknya, kedua-duanya bekerja, memberi kebebasan suami atau istri berkarier, dan sebagainya. Nah komitmen-komitmen ini harus terus dipegang. Bila suatu saat terjadi konflik yang diakibatkan oleh pelanggaran pasangan terhadap komitmen yang sudah dibuat, berusahalah kembali mengingat komitmen-komitmen yang pernah dibuat saat menikah.
9. Saling Bergantung
Tak hanya istri yang harus bergantung pada suami atau suami yang bergantung pada istri tetapi keduanya harus saling bergantung. Hal ini sebagai wujud kalau kita dan pasangan merupakan pribadi yang menyatu. Dengan begitu bila ada kekurangan di masing-masing pihak bisa saling mengisi. Contoh, gaji suami yang tak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga bisa tercukupi oleh gaji istri. Karena kesibukannya, istri tak bisa mengantar anak ke sekolah, tak salah bila suami yang menggantikan perannya. Begitu seterusnya. Saling bergantung ini pun membuat kita tidak saling berlomba untuk menunjukkan peran yang terkadang menjadi salah satu pemicu pertengkaran.
10. Berbagi dalam Suka dan Duka
Pernikahan ibarat mengarungi lautan dengan perahu, maka kita harus saling bahu-membahu supaya perahu tidak terbalik atau karam hingga dapat menyeberangi lautan. Bila dalam pernikahan ada suka maka setiap pasangan harus merasakannya. Begitu pun bila ada duka, pasangan harus mengempatinya. Kemampuan berbagi rasa ini menjadi salah satu hal penting untuk mewujudkan perkawinan yang langgeng. Jangan sampai, bila pasangan punya masalah, kita bersikap tidak mau tahu. Sebaiknya, suami dan istri harus menjadi teman untuk berbagi sekaligus memberikan jalan keluar dan pemberi semangat.
11. Tidak Menjadi Pengatur
Mengatur supaya hubungan perkawinan menjadi harmonis dan berjalan dengan baik tak masalah. Namun bila mengaturnya sudah mendikte tentu akan menuai masalah. Umpama, suami selalu diatur oleh istri berapa rupiah harus menjatahkannya beli baju, jam berapa suami harus pulang kerja dan tidak boleh telat, dengan siapa saja suami/istri boleh bergaul. Tentu pendiktean ini akan membuat pasangan kesal sehingga memunculkan bom waktu yang terpendam. Bila memang ingin mengatur cobalah dengan cara yang bijaksana, dengan kata-kata halus, sambil memberi masukan yang disertai berbagai pertimbangan sehingga tanpa kesan mendikte.
12. Menjaga Kemesraan
Kemesraan hubungan tak hanya saat pacaran. Ketika sudah menikah pun harus terus dijaga supaya keharmonisan tetap terwujud. Mencium tangan atau pipi suami/istri saat akan berangkat kerja bisa menjadi sangat penting untuk keharmonisan. Tak hanya itu, kita juga bisa mewujudkannya lewat kata-kata halus, memberikan hadiah saat ulang tahun, berkata mesra, memberikan perhatian tulus saat pasangan sakit, dan sebagainya. Dengan kemesraan ini akan terus menggelorakan perasaan cinta sehingga tidak padam.
13. Tampil Menawan
Bayangkan, apa respons suami bila sepulang kerja mendapati istrinya berpakaian lusuh dan bau? Atau sebaliknya. Meskipun dia sangat mencitai pasangannya namun responsnya tidak sebaik bila istri maupun suami berpenampilan menawan. Berpenampilan menawan tak harus dengan baju bagus dan berbedak tebal tetapi bisa dengan berpakaian sederhana, rambut tidak acak-acakan, mandi, sangat baik bila memakai parfum. Dengan penampilan seperti ini tentu pasangan akan lebih senang tinggal di rumah.
14. Mencukupi Nafkah
Semua hal di atas mustahil berjalan dengan baik bila tak ada yang mencukupi kebutuhan rumah tangga. Umumnya, di masyarakat kita yang bertugas memberi nafkah adalah suami, maka suami harus berusaha untuk mencukupi segala kebutuhan rumah tangganya. Namun tak berarti istri terbebas dari tanggung jawab ini. Bila ternyata gaji suami kurang dan tak dapat memenuhi kebutuhan, tentu istri perlu membantu. Setidaknya, istri mengatur pengeluaran biaya rumah tangga dengan sebaik-baiknya.
Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/nakita
Konsultan ahli:
Ita D. Azly, Psi.,
dari Iradat Konsultan, Jakarta